Kamis, 21 Januari 2010

Konsekwensi Guru Teladan

Menjadi seorang pendidik adalah panggilan jiwa. seorang pendidik yang benar-benar mendidik sungguh sangat berat. Tiga pilar yang perlu dikuasai adalah penguasaan segi keilmuan (kognatif), sikap dan prilaku (afektif), keterampilan (motorik). Ketiga pilar itulah yang harus melekat pada jiwa seorang pendidik. Bila tidak menguasai ketiga pilar itu maka, otomatis guru dapat dikatakan tidak berhasil dalam proses belajar mengajar.
Julukan guru teladan yang diberikan oleh lembaga pendidikan atau pemerintah kebanyakan berdasarkan pada penilaian tiga pilar diatas. Dengan menyandang guru teladan konsekwensi yang harus dipikul adalah tindak tanduknya dan segala aktifitas yang dilakukan akan selalu di tiru oleh semua siswa maupun orang luar ligkungan sekolah karena sebagi public figure yang dinanti-nantikan.
Program guru teladan secara nalar dapat dimaknai sebagai sosok seorang guru yang mempunyai karakteristik serta kemampuan lebih baik dari segi integritas maupun dari behaviour mereka serta yang paling penting menurit penulis adalah pijakan yang berdasarkan pada relegiulitas yang mereka terapkan dalam hidup mereka. Hidup yang selalu berdasarkan pada nilai-nilai keagamaan dan kebersihan hati nurani.
Punya hati bersih serta nilai keagamaan yang kuat tidak sembarang orang bisa memlikinya. Program ini memerlukan proses yang amat panjang dan harus secara continuitas diasah dan diterapkan secara konsekwen dan terarah dalam kehidupan sehari-hari. Penerapan baik terhadap anak didik maupun terhadap sosial kemasysrakatan pada umumnya.
Hati secara maknawi dapat di difinisikan menjadi dua kelompok. Pertama, Hati yang berupa segumpal daging yang terletak disebelah dada kiri manusia. Gambaran fungsi hati ini dalam surah Qof ayat 37 disebutkan dengan gamblang ”bahwa sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati”.
kedua, hati yang berhubungan dengan hahekat kekuatan ruh untuk mengenal tuhan. Hati dalam pengertian ini adalah mengetahui apa yang tidak dicapai kemampuan pikiran manusia. Hati ini bisa diibaratkan seperti cermin. Bila cermin bersih, maka terlihatlah sesuatu dengan baik. Sebaliknya, bila penuh denan noda, maka akan tertutuplah segala sesuatu didepanya.
Kedua difinisi hati tersebut merupakan gambaran fungsi keeksistensian manusia ketika beraktifitas sehari-hari dalam merajut kehidupan didunia, termasuk dalam hal ini aktifitas yang dilalkukan seorang guru. Sudahkah guru yang disebutkan sebagai guru yang bergelar teladan mempunyai karakteristik seperti yang digambarkan pada definisi-definisi di atas tadi. Jika belum, maka harapan untuk menjadi guru teladan (bintang) jauh dari harapan.
Selain karakteristik di atas, yang menjadi titik point bagi guru pada dasarnya terletak pada proses belajar mengajar (Learning-Teaching Process). Ini menjadi penting, karena itulah tujuan guru dalam mengaplikasikan ilmunya dalam arti yang sebenarnya. Bagaimana mereka membeberkan pelajaran dan gaimana para siswa mampu menerima serta memahami apa yang telah diberikan oleh guru-guru ketika menerima pelajaran di kelas.
Dua aspek yang paling utama dalam proses belajar mengajar sebenarnya terletak pada guru dan murid. Sedangkan aspek lain seperti buku dan sarana prasarana hanyalah sebagai penunjang. Salah satu aspek tidak berfungsi secara maksimal, implikasi yang harus diterima adalah kegagalan siswa dalam menempuh pendidikan, baik dalam perolehan nilai angka maupun dalam prilakunya.
Untuk menempuh semua aspek itu, diperlukan adanya keimbangan antara tiga aspek yang saya sebutkan diatas, yaitu aspek kognetif, afektif dan motorik dengan balutan nilai religiusitas ketika terjadi proses belajar mengajar. Dengan penguasan aspek-aspek tersebut dapat dipastikan bahwa pengaplikasian ilmu dapat berjalan dengan lancar.
Transfer ilmu pengetahuan dari guru terhadap murid adalah inti permasalahan yang tidak boleh tidak harus dilalui. Ilmu menjadi tumpuan dan harapan bagi setiap manusia. Karena dengan ilmu manusia dapat melakukan apa saja yang diinginkan. Ilmu sebagai pemimpin sedangkan amal perbuatan dapat dijadikan sebagai pengikutnya. Oleh kerena itu, ilmu harus diilhamkan kepada orang-orang yang bahagia dan diharamkan bagi orang-orang yang celaka.
Dalam kata hikmah dikatakan, “apabila anda bertemu kepada orang yang tidak berilmu, janganlah dimulai dengan perbincangan ilmu pengetahuan, tapi mulailah dengan sikap yang lemah lembut, karena ilmu membuat mereka liar. Sedangkan sikap lemah lembut membuat mereka lunak”.
Penggambaran ilmu pernah diucapkan oleh saidina Ali ra. Beliau menggambarkan bahwa ilmu adalah bagaikan akar pohon sedangkan pengetahuan adalah cabangnya. Akar tanpa cabang akan membusuk. Cabang tanpa akar akan mengering. Simbiosis mutualisme tersebut harus berjalan seimbang. ketidak seimbangan akan mengakibatkan sesuatu yang terjadi tidak sesuai dengan jalur yang sebenarnya.
Alam memberikan pengajaran pada kita bahwa keabadian senantiasa berdiri diatas roda keseimbangan. Begitupula yang terjadi terhadap ilmu pengetahuan. Penggunaan berlebihan terhadap pengetahuan menghasilkan kesementaraan-kesementaraan yang menyesatkan, begitu pula yang terjadi terhadap kecerdasan manusia.
Semua gambaran serta aspek diatas menjadi tolak ukur pada pengajar secara keseluruan, bahwasanya segala sesuatu yang kita kerjakan selalu berjalan atas keseimbangan baik dalam bersikap maupun dalam tingkah laku. Begitu pula apa yang dikerjakan oleh guru dalam melaksanakan aktifitasnya akan selalu berpatokan pada dalil keseimbangan.
Korelasi keseimbangan itu dimungkinkan akan terus menular dan mengalir bagai mata air yang sulit untuk dihentikan. Rumus keseimbangan ini sangat berharga bagi seorang guru. Apalagi guru yang sudah mendapat julukan sebagai guru teladan (bintang). Segala perbuatan yang dilakukan akan dijadikan barometer oleh semua kalangan. Sikap prilaku akan menjadi tuntunan dan panutan.
Julukan kehormatan sebagai guru teladan adalah harapan dan dambaan bagi semua guru. Untuk mendapatkanya memerlukan perjuangan yang amat panjang. Baik dari penilaian proses belajar mengajar maupun kegiatan yang dilakukan di luar sekolah. Sedangkan nilai religiusitas akan menjadi penyeimbang ketika melakukan aktifitas. Semua itu menjadi konsekwensi terhadap pola hidup manusia di Dunia.




Biodata Penulis :

N a m a : Sa’dullah
Unit Kerja : Guru SMKN 5 Banjarmasin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

aku tunggu comment kamu ya....